Jumat, 13 Januari 2017

Lava Tour Merapi: Sisa Bencana jadi Tempat Wisata (Bagian Kedua)

Lava Tour Merapi belum selesai, masih ada tempat yang rugi bila tak dikunjungi.


Bunker Kaliadem merupakan pemberhentian selanjutnya, setelah Batu Alien. Bunker adalah ruang bawah tanah yang dibuat untuk berlindung ketika gunung erupsi. Meski begitu, berdasarkan penjelasan guide, ketika awan panas turun terdapat relawan yang meninggal di kamar mandi bunker. 


Diperjalanan menuju Bunker Kaliadem tadi, guide sempat bercerita sedikit tentang saudara sekaligus orang kepercayaan Mbah Maridjan. Di Bunker Kaliadem inilah aku dapat bertemu dengannya karena beliau berdagang di sana. Parasnya mirip, sifatnya ramah khas orang Jogja. Olehnya kami diceritakan kembali kisah tentang erupsi Gunung Merapi sambil diperlihatkan photo story karya Boy T. Harjanto.


Setelah Mbah Maridjan meninggal, anaknya meneruskan jabatan sebagai juru kunci Merapi. Dari photo story karya Boy T. Harjanto aku mengetahui percakapan terakhir antara Mbah Maridjan dengan anaknya. Anak lelakinya memohon ijin kepada Mbah Maridjan untuk turun mengungsi sekaligus mengajak Mbah Maridjan ikut. Mbah Maridjan mengijinkan anaknya untuk turun, namun ia menolak ikut. Ia berkata kalau ikut turun, bisa-bisa ditertawai oleh anak ayam. Betapa Mbah Maridjan setia pada tanggung jawabnya.

Matahari beranjak turun namun masih ada tempat yang harus dikunjungi, yaitu rumah Mbah Maridjan. rumah tersebut adlaah rumah yang terkena erupsi sehingga sudah tidak berbentuk. Di tempat itu pula Makam Mbah Maridjan terletak. Di sana tidak terlalu ramai seperti tempat-tempat sebelumnya, meskipun terdapat anak-anak Mbah Maridjan yang berdagang di pelatarannya. Suasananya lebih adem. Terdapat gamelan milik Mbah Maridjan yang sudah berkarat dan mobil evakuasi yang terbakar karena awan panas. 







Ku kira perjalanan sudah selesai. Namun guide berkata bahwa masih ada satu pemberhentian lagi. Ketika ditanya dimana, ia hanya menjawab “Rahasia, nanti tidak jadi kejutan. Pokoknya kita buat kenangan yang tidak terlupakan”. Beberapa menit kemudian jeep berhenti di jalan yang bersebelahan dengan sungai. Guide berkata kalau harus ada satu orang yang turun untuk mengambil video. Sampai disitu aku masih belum bisa menebak apa yang akan dilakukan. Jeep melaju kembali, kali ini lebih cepat. Ternyata jeep berjalan memasuki sungai. Kaget, aku tertawa antara senang dan khawatir akan baju yang basah. Off road melintasi sungai, penutup yang pas setelah sedu sedan sempat hinggap sebelumnya. Betapa tegar dan cerdasnya mengubah sisa bencana menjadi tempat wisata.
Akhirnya, ini video beberapa tempat yang kudatangi. Semoga bisa menjadi referensi ketika berlibur ke Jogja. 

Share:

1 komentar:

  1. Sempet melihat kondisi Desa Kinahrejo sebelum erupsi 2010 sama pascaerupsi..
    Lihat sendiri kehancuran yang parah saat itu, tapi salut dengan Kinahrejo yang berhasil bangkit kembali melalui segi pariwisata...

    BalasHapus