Selasa, 28 Maret 2017

Anak dan Media Baru: Bersatu tak Dapat Dipisahkan

Setelah tumbuh dewasa, saya semakin yakin bahwa sejauh ini, masa kecil adalah masa yang paling menyenangkan dari keseluruhan alur kehidupan saya. Urusannya hanya sekolah dengan pintar dan dapat peringkat di kelas. Hiburan dapat dengan mudah didapat dari nonton kartun di televisi, dan main internet di akhir pekan.

Loh kenapa internetannya hanya di akhir pekan? Jadi, saya baru bermain internet ketika kelas 1 SMP. Kemudian, memiliki handphone yang bisa mengakses internet ketika kelas 2 SMP. Saat itu saya baru mengakses internet untuk bermain facebook saja. Dulu rasanya asyik sekali bermain facebook, karena bisa chatting dengan teman-teman sekolah. Kemudian saya melihat teman-teman saya banyak yang kecanduan bermain facebook dan menomorduakan tugas-tugas dari guru. Saya tidak mau seperti itu. Orang tua saya sendiri tidak pernah melarang ataupun memberi batasan kepada saya dalam menggunakan internet. Jadilah saya membatasi diri saya sendiri untuk bermain internet hanya pada hari Sabtu dan Minggu. Untunglah, karena hal tersebut masa kecil saya yang penuh kebahagiaan terselamatkan.

Beda dulu, beda sekarang. Jika dahulu bermain internet saya anggap sebagai privilage setelah seminggu bersekolah, saat ini teknologi bukan lagi hal yang istimewa karena bisa diakses dimanapun dan kapanpun. Semua orang bisa mengakses internet, termasuk anak-anak. Baca dulu Pemerataan Akses Internet di Indonesia.

Ketersediaan perangkat keras membuat anak-anak menjadi ahli dalam mengoperasikan teknologi tanpa perlu diajari. Bagus memang, anak-anak menjadi melek teknologi dan tidak ketinggalan zaman. Tetapi apakah anak-anak sudah ahli juga dalam menggunakannya? Maka dari itu, perlu kiranya kita mengetahui pembahasan tentang internet dan anak-anak agar kita dapat mengetahui apa saja pengaruh internet pada anak, bagaimana cara mengatasinya, dan bagaimana cara menggunakan internet dengan bijak.

Internet tidak sepenuhnya baik, tetapi juga tidak perlu dihindari. Mungkin kita sebagai orang dewasa sudah mengetahui hal tersebut, tetapi tidak dengan anak-anak. Mereka menggunakan tanpa memahami apa sebenarnya dampak dari internet bagi dirinya. Beberapa ahli berikut berusaha menyampaikan pandangannya terhadap penggunaan internet oleh anak-anak.
1.     Seymour Papert (1993)
Seymour Papert berpendapat bahwa pembelajaran dengan new media lebih unggul dari pada pembelajaan biasa. Hal tersebut karena new media membuat anak-anak menjadi lebih responsive. Dengan begitu anak-anak menjadi lebih mudah dalam bersosialisasi dan mengekspresikan diri.
2.      Jon Katz (1996)
John Katz berpendapat bahwa internet menjadi kesempatan bagi anak-anak untuk membebaskan diri dari kontrol orang tua. Dengan kebebasan itu, anak-anak dapat membuat kultur dan komunitasnya sendiri.
3.      Don Tapscott (1997)
Don Tapscott beranggapan bahwa internet menciptakan generasi elektronik yang lebih demokratis, imajinatif, tanggung jawab, dan memiliki banyak informasi.
4.      Tobin (1998)
Tobin merasa bahwa media baru membuat anak-anak menjadi anti sosial, dan menghancurkan interaksi manusia.
5.      Provenzo (1991)
Provenzo berpendapat bahwa media digital dapat menjadi pengaruh buruk pada kebiasaan anak-anak. Anak-anak bisa meniru tindak kekerasan yang dilihat.

Biasanya anak-anak menggunakan internet dan komputer untuk bermain games. Papert (1993) berkata bahwa games merupakan hal utama yang diakses oleh anak-anak ketika mengenal dunia komputer. Seringkali games yang dimainkan oleh anak-anak adalah games yang di dalamnya terdapat karakter tokoh favoritnya. Misalnya games Spongebob Squarepants Collapse. Meskipun permainannya sederhana, banyak anak-anak yang suka memainkan game tersebut karena ia menyukai Spongebob Squarepants dan sering menontonnya di telelvisi. Tidak berhenti sampai di situ, biasanya anak-anak juga menginginkan barang-barang yang bergambar kartun favoritnya, seperti perlengkapan sekolah, pakaian, lemari, dan benda lainnya. Nah, hal-hal inilah yang bisa disebut sebagai kapitalisme. Stallybrass (1992) menggunakan penelitian dari Adorno dan Benjamin untuk mengembangkan teori permainan sebagai bentuk kemunduran/regresi yang disebabkan oleh budaya kapitalis. Jadi dibalik sebuah games, ternyata ada sesuatu yang lebih besar, yang terkadang tidak diketahui oleh penggunanya bahkan pembuatnya.

Selain kapitalisme, ada lagi fakta besar dibalik games. Secara tidak langsung, games dapat mempengaruhi karakter anak. Anak-anak bisa menganggap adegan di dalam games seperti kekerasan, sebagai sesuatu yang wajar dan boleh dilakukan sehingga kemudian ditiru di kesehariannya. Pernah bermain games Pac-Man? Klein (1984) menyebutkan bahwa permainan klasik Pac-Man, menunjukkan kecenderungan sadomasokis. Sadomasokis adalah sebuah gangguan psikologis dengan menyakiti diri sendiri melalui perlakuan seksual.

Permainan Pac-Man (Pacman.com)


Ketidaktahuan anak-anak akan dampak internet dan games inilah yang seharusnya mengusik ketenangan orang dewasa. Ketidaktahuan tersebut jangan sampai dibiarkan begitu saja. Orang dewasa tidak perlu memisahkan anak-anak dari internet dan game, karena seperti dua kutub magnet, hal tersebut susah dilakukan. Terlebih banyak yang bilang bahwa dunia anak-anak adalah dunia bermain. Di masa kecillah seseorang memiliki waktu lebih yang bisa dinikmati untuk bermain games. Saya pun tidak rela jika ketika kecil dulu, saya harus dipisahkan dari komputer, internet, dan games.

Orang dewasa bisa menyelamatkan anak-anak dari dampak negatif internet dengan memberi bimbingan dan pengawasan kepada anak-anak. Orang dewasa, terutama orang tua, harus mengetahui situs-situs apa saja yang dibuka oleh anaknya. Harus mengetahui juga games seperti apa yang diunduh dan dimainkan oleh anak-anaknya.

Selain games, akses internet lainnya seperti sosial media, juga harus dipantau oleh orang tua. Orang tua harus tau aktivitas anak di sosial media, dengan siapa anak-anaknya berinteraksi, juga bagaimana anaknya menunjukkan identitas di sosial media. Hal tersebut perlu dilakukan karena saat ini banyak sekali kejahatan yang bermula dari sosial media, seperti penculikan hingga pembunuhan.

Pembuat software aplikasi dan permainan (programmer) juga perlu memiliki rasa tanggung jawab atas karyanya. Programmer perlu mempertimbangkan unsur apa saja yang ada di dalam software buatannya. Programmer bisa memanfaatkan games untuk dimasuki unsur pendidikan sehingga anak-anak bisa bermain sambil belajar. Terhibur dan mendapat pengetahuan.

Daftar Pustaka                                                                                              
Lievrouw, Leah A. & Sonia Livingstone. 2006. Handbook of New Media: Social Shaping and Social Consquences of ITCs, Sage Publication Ltd. London. Chapter 3: “Children and New Media”.

    
Share:

1 komentar:

  1. wah setuju sih, jaman sekarang internet buat anak-anak dibawah umur lebih banyak mudhorot nya ketimbang manfaatnya. Apalagi konten-konten di internet nggak tersaring dengan benar, jadi hal berbau pornografi dan game-game yang mengajarkan kekerasan bisa diakses dengan mudah oleh anak. Sebenernya pengawasan dari orang tua aja kaliya yang paling penting supaya bisa menyelamatkan generasi-generasi penerus bangsa supaya nggak rusak oleh internet.

    BalasHapus