Selasa, 21 Maret 2017

Pemerataan Akses Internet di Indonesia

Kemajuan teknologi komunikasi telah melahirkan new media, yang membuat penggunaan internet menjadi marak di dunia. Termasuk saya yang memanfaatkan internet untuk menulis di blog ini, dan kalian yang menggunakan internet untuk membaca blog saya. Dengan adanya perangkat keras seperti laptop dan android, kita bisa mengakses internet dimanapun dan kapanpun. Terlebih jaringan wifi sudah ada dimana-mana. hal tersebut membuat kita dengan mudahnya dapat mengakses internet. Pada tahun 2014, lembaga riset pasar e-Marketer mengatakan bahwa  populasi pengguna internet di Indonesia telah mencapai 83,7 juta. Angka tersebut membuat Indonesia berada di posisi ke-6 jumlah pengguna internet dunia.




Namun, apakah angka tersebut juga menjamin pemerataan akses internet di Indonesia? Van Dijk (1999) dan Rojas (2004) mengemukakan beberapa hambatan dalam penggunaan new media, antara lain usia, akses jaringan, cara menggunakan aplikasi, modal ekonomi, gender, etnisitas, dan modal kultural.

Bukan rahasia lagi jika beberapa daerah di pedalaman Indonesia masih memiliki ketersediaan jaringan dan aksebilitas yang rendah. Jaringan dari internet broadband belum menjangkau daerah dengan kondisi geografis yang jauh dari kota besar. Internet broadband hanya memusatkan jaringan di kota-kota besar seperti Jakarta dan Surabaya, sedangkan daerah seperti Papua dan Sulawesi belum diutamakan. Hal tersebut menyebabkan internet tidak dapat diakses oleh beberapa etnis di Indonesia seperti Suku Dani, Papua, dan Baduy.  Survey yang dilakukan oleh Badan Pusat Statistika (BPS) pada pengguna internet berdasarkan klasifikasi daerah juga menunjukan bahwa peningkatan penggunaan internet pada daerah perkotaan lebih tinggi daripada di pedesaan.

Selain letak geografis, tingkat pendidikan juga mempengaruhi penggunaan akses internet pada masyarakat. Survei BPS membuktikan bahwa orang yang sedang menempuh pendidikan lebih sering mengakses internet daripada orang yang tidak atau sudah tidak menempuh pendidikan. Hal tersebut karena saat ini banyak sumber pembelajaran siswa yang berasal dari internet. Selain itu, terdapat juga metode pembelajaran yang memanfaatkan internet, bernama e-learing. Bahkan, kini di internet juga tersedia situs-situs website yang menawarkan video pembelajaran secara online dengan iming-iming keberhasilan nilai.



Punya anggota keluarga yang tidak mahir menggunakan teknologi komunikasi? Hal tersebut biasanya dialami oleh orang tua yang sudah berumur lanjut. Mereka tidak terbiasa menggunakan teknologi dan merasa kesulitan dalam menggunakan aplikasi berbasis online sehingga memilih untuk tidak menggunakannya. Mereka juga merasa bahwa teknologi bukanlah bagian dari dirinya, sehingga ada tidaknya teknologi tidak terlalu berpengaruh. Berbeda sekali dengan generasi muda saat ini yang selalu berusaha mengikuti perkembangan teknologi sehingga sangat menguasai penggunaan teknologi komunikasi. Berikut adalah komposisi pengguna internet berdasarkan usia, hasil survey yang dilakukan oleh BPS. 



Rojas (2004) juga membahas penggunaan internet pada gender. Topik tersebut sudah disurvey oleh Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet di Indonesia (APJII) pada tahun 2016. Meski tidak sama, penggunaan internet antara pria dan wanita menunjukkan hasil yang tidak terlalu signifikan. Dari total 132,7 jiwa pengguna internet di Indonesia, 51,8 persen adalah pria dan 48,2 persen wanita.

Kemajuan teknologi komunikasi setiap waktu, membuat harga perangkat teknologi semakin murah. Bila dahulu handphone merupakan barang mewah, kini hampir setiap orang memilikinya karena pilihan harganya semakin bervariasi. Selain itu, handphone juga sudah menjadi kebutuhan, sehingga setiap orang akan berusaha memilikinya meskipun berpenghasilan kecil. Hal tersebut membuat akses internet tidak hanya bisa diakses oleh orang-orang berpenghasilan tinggi saja. Seperti yang terlihat pada table, setiap orang dengan berbagai pekerjaan dan pendapatan dapat melakukan akses internet.


Menggunakan internet merupakan hak bagi semua orang. Termasuk para penyandang disabilitas. Kekurangan bukan alasan untuk ketinggalan zaman. Orang dengan disabilitas juga mau dan mampu menggunakan internet. Pada tahun 2014 di kabupaten tempat tinggal saya, Banyumas, pernah diadakan pelatihan internet untuk disabilitas. Pelatihan tersebut diadakan oleh Badan Penelitian dan Pengembangan Sumber Daya Manusia, Kementerian Komunikasi dan Informatika Republik Indonesia, melalui Pusat Penelitian dan Pengembangan Literasi dan Profesi Kominfo bekerjasama dengan Pemerintah Kabupaten Banyumas. Pelatihan tersebut diadakan dengan sasaran para penyandang disabilitas di kota Purwokerto, dan diikuti oleh PERTUNI (Persatuan Tuna Netra Indonesia), ITMI (Ikatan Tuna Netra Muslim Indonesia), PPCI (Persatuan Penyandang Cacat Indonesia), dan Murid SLB Bagian B Yakut Purwokerto. Tujuan hal tersebut tidak lain adalah agar penyandang disabilitas dapat memanfaatkan internet untuk hal-hal positif.

Menurut APJII, beberapa alasan utama masyarakat Indonesia menggunakan intermnet adalah untuk update informasi, pekerjaan, mengisi waktu luang, sosialisasi, pendidikan, hiburan, berbisnis, dan mencari barang. Dari penjelasan di atas, maka masyarakat Indonesia menggunakan internet untuk hal-hal yang positif. Menurut saya, internet dengan segala manfaat positifnya berhak diakses oleh semua orang terlepas dari tempat tinggal, usia, gender, penghasilan, dan kondisi fisik. tidak ada pembatasan terkait pengaksesan internet. Sayangnya, dari penjelasan di atas dapat kita ketahui bahwa pemerataan akses internet belum terwujud karena ada beberapa hambatan yang belum teratasi. Saya pribadi berharap agar beberapa waktu ke depan, semua orang dapat mengakses internet dan mengoptimalkan penggunaannya untuk kemajuan.

Daftar Pustaka

Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia. “Survei Internet APJII 2016”. Diakses pada 21 Maret 2017. https://apjii.or.id/content/read/39/264/Survei-Internet-APJII-2016.


Badan Pusat Statistik. “Komposisi Penggunaan Internet Berdasarkan Usia pada Tahun 2016” Diakses pada 21 Maret 2017. https://statistik.kominfo.go.id/site/searchKonten?iddoc=1517.

Badan Pusat Statistik. “Persentase Pengguna Internet Berdasarkan Tingkat Pendidikan Tahun 2014”. Diakses pada 21 Maret 2017. https://statistik.kominfo.go.id/site/searchKonten?iddoc=1330.


Badan Pusat Statistik. “Penetrasi Pengguna Internet Berdasarkan Pekerjaan Tahun 2016”. Diakses pada 21 Maret 2017. https://statistik.kominfo.go.id/site/searchKonten?iddoc=1515.

Dinas Perhubungan Pemerintah Kabupaten Banyumas. “Penyandang Disabilitas Mendapat Pelatihan Internet”. diakses pada 21 Maret 2017. http://dinhub.banyumaskab.go.id/read/15858/penyandang-disabilitas-mendapat-pelatihan-internet#.WNEGMm_yjDc.

Lievrouw, Leah A. & Sonia Livingstone. 2006. Handbook of New Media: Social Shaping and Social Consquences of ITCs, Sage Publication Ltd. London. Chapter 4: “Perspectives on Internet Use: Access, Involvement and Interaction”.

Nugrahanto, Pradipta. “BigNet Ingin Sediakan Layanan Internet Murah Berkualitas untuk Kawasan Terpencil di Indonesia.” Diakses pada 21 Maret 2017. https://id.techinasia.com/bignet-internet-broadband-satelit-murah-daerah-terpencil.

Yusuf, Oik “Pengguna Internet Indonesia Nomor Enam Dunia”. Diakses pada 21 Maret 2017. http://tekno.kompas.com/read/2014/11/24/07430087/Pengguna.Internet.Indonesia.Nomor.Enam.Dunia.
Share:

0 komentar:

Posting Komentar