Sabtu, 09 Juni 2018

Bau yang Bukan Sembarang Bau



Judul       : Aroma Karsa
Penulis    : Dee Lestari
Penerbit   : Bentang Pustaka
Terbit       : Maret 2018
Tebal        : xiv + 710 halaman
ISBN        : 978-602-291-463-1

Berbeda dari novel-novel Dee yang sebelumnya, Aroma Karsa pertama kali diluncurkan dalam bentuk digital. Bentuk digital Aroma Karsa diterbitkan dalam format cerita bersambung sehingga pembaca dibuat harap-harap cemas menunggu kelanjutan ceritanya. Hal tersebut membuat Aroma Karsa sudah ramai diperbincangkan sebelum fisiknya lahir. Maka bukan hal yang mengejutkan ketika versi cetaknya dirilis, Aroma Karsa langsung diserbu pembaca.

Cerita Aroma Karsa dimulai dari sosok Raras Prayagung, yang berusaha mencapai tujuan hidupnya: menemukan Puspa Karsa. Puspa Karsa bukan tanaman biasa, ia tidak tumbuh di rumah-rumah kaca, atau di teras rumah warga. Tidak ada seorang pun yang mengetahui letak dan bentuk dari Puspa Karsa. Ia hanya bisa diidentifikasi dengan aroma. Aromanya pun hanya bisa dicium oleh orang-orang tertentu. Mencari Puspa Karsa bukanlah hal yang mudah, bahkan mustahil rasanya.

Raras tidak termasuk dalam orang-orang tertentu yang bisa mencium aroma Puspa Karsa. Karena itu, bertemulah ia dengan Jati Wesi, seorang pemuda dengan penciuman luar biasa yang tinggal di TPA Bantar Gebang. Jati Wesi bukan hanya berkenalan dengan Raras, namun juga Tanaya Suma, anak Raras satu-satunya, yang memiliki kemampuan penciuman seperti Jati. Penciuman Jati Wesi dan Tanaya Suma sangat peka, bahkan mereka bisa mengidentifikasi aroma suatu benda dari jarak yang cukup jauh.

Memiliki tema besar tentang penciuman membuat buku ini sangat sering mendeskripsikan aroma-aroma yang tercium oleh Jati dan Suma. Dari aroma bangkai busuk, mulut yang habis menghisap rokok, gula aren, bahan kimia, dan bau-bauan lainnya. Mendeskripsikan aroma dengan kata-kata memang hal yang abstrak. Namun dari keabstrakan itu, pembaca justru dibuat penasaran dan mengingat-ingat, seperti apa aroma parfum? Dan seperti apa aroma sampah?

Membaca Aroma Karsa seperti diajak menelusuri dua dunia: dunia nyata, dan dunia Dee. Pembaca dibawa ke dunia fiksi, non fiksi, fiksi, non fiksi. Hingga akhirnya tidak tahu lagi mana yang fiksi mana yang non fiksi, mana yang masuk akal mana yang hanya ada di khayalan Dee. Dee membawa pembaca ke sebuah tempat yang hanya ia sendiri yang tau. Penjelasannya sangat detail hingga pembaca dibuat percaya kalau tempat itu sungguhan ada.

Aroma Karsa memiliki cerita yang berlapis, ada sejarah, percintaan, keluarga, ambisi, dunia dewa-dewi, zat kimia, parfum, sampah, penjara, hingga pendakian. Dee meramu semuanya menjadi satu di dalam Aroma Karsa. Padat, namun enak dinikmati. Pembaca tidak dibuat bingung, justru sibuk menebak-nebak apa yang akan terjadi pada bab selanjutnya. Bahkan rela membaca ulang halaman-halaman sebelumnya agar tebakannya akurat.

Semakin menuju ke halaman akhir, pembaca semakin dibuat tidak karuan. Masa lalu Jati yang semakin terkuak, kemauan Raras yang tidak bisa diganggu gugat, dan Tanaya yang keberaniannya semakin besar menimbulkan rasa penasaran sekaligus enggan untuk mengakhiri ceritanya.

Pada akhirnya, dibalik ceritanya yang padat dan berlapis, Aroma Karsa adalah buku yang bercerita tentang Puspa Karsa. Bukan tentang Jati Wesi, Raras, Suma, atau tokoh lainnya. Setelah tamat membaca Aroma Karsa dan menutup bukunya, rasanya seperti baru kembali dari sebuah petualangan yang amat panjang.

Share:

0 komentar:

Posting Komentar