Jumat, 14 Juni 2019

Agar Media Sosial tidak Sekadar Haha Hehe Saja




Judul               : Lo Ngerti Siapa Gue
Penulis             : Sophia Mega
Penerbit           : Metagraf
Terbit               : Januari 2019
Tebal               : xii + 164 halaman
ISBN               : 978-623-7013-74-7

Saya mengenal Sophia Mega ketika sedang iseng mencari review buku di youtube. Ketika itu saya tidak tahu bahwa terdapat youtuber yang disebut booktuber. Kemudian saya subscribe channel-nya dan mengikuti Mega di instagram dan twitter.

Dari media sosialnya, saya tahu bahwa Mega adalah seorang mahasiswa Ilmu Komunikasi, sama seperti saya. Mega juga sepertinya sedang mengerjakan skripsi seperti saya. Ketika melihat media sosialnya, saya sering sekali berpikir kalau Mega adalah seseorang yang produktif. Ia sering mengunggah buku yang sedang dibaca dan pekerjaan yang sedang digarap. Jarang sekali saya lihat Mega mengunggah sesuatu yang sekadar haha hehe seperti ketika bermain dengan teman, atau pergi ke suatu tempat. Bahkan insta story Mega seperti sudah direncanakan dan dipikirkan dulu sebelum diunggah. Saya pun dibuat penasaran bagaimana cara Mega selalu produktif? Bagaimana Mega membangun relasi? (Mega tinggal di Malang).

Kemudian saya mengetahui bahwa Mega menerbitkan buku pertamanya yang berjudul Lo Ngerti Siapa Gue (LNSG). Sebuah buku yang membahas tentang cara membangun personal branding di media sosial meskipun kita bukan selebgram. Saya pun membeli buku tersebut dan habis saya baca dalam sekali duduk. Cukup terkejut karena saya masih belajar untuk membaca buku nonfiksi.

Ketika membuka buku LNSG, saya disuguhi dengan halaman-halaman yang berwarna. Fontnya tidak terlalu kecil dan kalau tidak salah, berwarna navy. Kemudian di beberapa bab terdapat ilustrasi yang meringkas keseluruhan bab.

Buku LNSG terasa asyik dibaca karena temanya kekinian. Mega menuturkan personal branding secara sederhana, baik bahasanya maupun penjelasannya. Selain menjelaskan personal branding secara teori, Mega juga menjelaskan personal branding berdasarkan pengalamannya dalam bermedia sosial dan berkomunikasi dengan orang lain. Sehingga menjawab rasa penasaran saya di awal tadi.

Buku LNSG menjelaskan bahwa terdapat tiga tahap dalam membangun personal branding yaitu dimensi personal brand, personal brand platform, dan personal brand promise. Mega mengajak pembaca untuk mengenali apa hal yang kita sukai dan kita miliki, kemudian memaksimalkannya di media sosial sehingga menimbulkan kepercayaan. Bukan mengemas diri kita sedemikian rupa agar dilihat baik oleh orang lain.

Bahasa dan penjelasannya yang sederhana membuat buku ini cocok dibaca jika baru saja ingin mempelajari personal branding. Buku ini juga cocok dibaca oleh remaja karena Mega menceritakan pengalamannya dalam memulai bermedia sosial, mencari kelebihan diri, dan tanggapan orang-orang di sekitarnya, sehingga membuat saya sendiri pun merasa relate. Sedikit kekurangan, ada beberapa kata yang typo dalam pengetikan seperti pada halaman 51 dan 68. Namun sebagai buku pertama, LNSG cukup menjanjikan dan lebih penting lagi, menyadarkan pembaca bahwa media sosial bukanlah sarana haha hehe semata.

Share:

Rabu, 26 Desember 2018

Nanti Kita Cerita Tentang Nonton Begalan (NKCTNB)


Baru-baru ini ada sebuah akun instagram yang dibicarakan oleh banyak orang. Nama akunnya Nanti Kita Cerita Tentang Hari Ini (NKCTHI). Akun tersebut rutin mengajak pengikutnya untuk bercerita mengenai suatu tema. Setelah muncul NKCTHI, muncul juga NKSTHI atau Nanti Kita Sambat Tentang Hari Ini. Sesuai namanya, akun tersebut mengajak pengikutnya untuk sambat. Nah biar gak kalah, judul tulisan ini aku buat mengikuti dua akun yang sedang naik itu. Tapi tenang, judulnya bukan clickbait kok karena isi tulisan ini memang menceritakan tentang pengalamanku ketika nonton begalan.

Minggu lalu bersama beberapa teman, aku berangkat ke Kroya dalam rangka kondangan. Sampai di sana ternyata sudah ramai, padahal pengantinnya belum keluar. Akhirnya kita duduk dan icip-icip suguhan dulu. Beberapa menit kemudian, pengantin laki-laki dan perempuan muncul dari dalam rumah, tapi tidak berbarengan. Pengantin laki-laki dengan rombongan keluarganya, begitu pun pengantin perempuan. Selain rombongan pengantin laki-laki dan perempuan, muncul juga seorang laki-laki dengan rambut panjang dan wajah dicat merah.

“Oh, mesti ada begalan ini,” kata Mei.

Aku yang selama ini hanya mengetahui begalan dari materi pelajaran saja, merasa tertarik untuk melihatnya. Ternyata benar kata Mei. Setelah laki-laki berwajah merah tersebut keluar, muncul seorang laki-laki lain (kali ini wajahnya tidak diwarnai) menggendong bakul yang berisi peralatan rumah tangga.

Begalan pun dimulai. Laki-laki berwajah merah menghadang laki-laki yang membawa peralatan rumah tangga, ingin merampok. Kemudian laki-laki pembawa alat rumah tangga tersebut memberikan nasehat-nasehat rumah tangga kepada pasangan pengantin, yang diibaratkan dengan alat-alat rumah tangga yang dibawanya. Di pertengahan pertunjukkan begalan, Mei mengajakku bicara.

“Ini aku tebak pengantin yang laki-laki anak sulung, trus yang perempuan anak bungsu,” katanya.

“Memang kalau ada begalan harus anak pertama sama terakhir?” tanyaku.

“Iya. Aku mau cari anak pertama ah,” kata Mei.

“Berarti aku cari yang anak terakhir ya. Dua-duanya harus orang Jawa?” tanyaku.

“Iyalah!” jawab Mei.

“Lah kalo anak tunggal gimana? Kan anak pertama sekaligus terakhir,” kataku.

Kutunggu-tunggu namun Mei tidak kunjung menjawab. Entah karena tidak tahu atau larut dalam pertunjukkan begalan. Kemudian aku pun tersadar sesuatu.

“Lah, aku kan bukan orang Jawa?!” seruku.

Share:

Selasa, 25 Desember 2018

Aku Muslim dan Aku Mengucapkan Selamat Natal


Ada saja perdebatan yang terus-menerus kita temui setiap tahun. Mulai dari perayaan hari valentine, hingga hukum mengucapkan selamat Natal. Ketika SMA aku tidak pernah mengucapkan selamat Natal kepada umat Kristian. Padahal tetanggaku beda 3 rumah, dan beberapa temanku merupakan pemeluk agama Kristen. Ketika itu, aku menolak mengucapkan selamat Natal tanpa alasan yang pasti. Ya, sekadar karena lingkungan sekitarku menganggap bahwa seorang Muslim tidak boleh mengucapkan selamat Natal, maka aku ikuti. Padahal sejujurnya, aku membayangkan, jika aku seorang Kristian dan temanku yang Muslim mengucapkan Natal padaku, pasti akan senang sekali rasanya. Selain itu, aku juga merasa bahwa hari Natal merupakan hari bahagia umat Kristian, lalu kenapa kita tidak ikut bahagia saja? Toh meskipun tidak merayakan, berkat hari Natal kita jadi libur dan bisa berkumpul dengan keluarga, bisa nonton banyak film-film baru di televisi.

Setelah lulus SMA dan berkuliah, pikiranku menjadi lebih terbuka. Aku tidak mau mengikuti begitu saja apa yang dianut orang-orang disekitarku. Jika aku mengiyakan pendapat orang-orang di sekitarku pun, aku mau dengan alasan yang jelas. Akhirnya aku mencari tahu, kenapa selama ini seorang Muslim seperti dilarang sekali mengucapkan selamat Natal. Dari beberapa jawaban, secara garis besar intinya sama: mengucapkan Natal berarti mengakui agama lain.

Tadi pagi aku melihat instagram story kakak kelas SMP-ku. Dia melampirkan sebuah video yang intinya ya, tidak boleh mengucapkan selamat Natal. Di dalam video tersebut diceritakan percakapan antara seorang Muslim dan Kristian.

Muslim berkata "Coba kamu ucap kalimat Syahadat," katanya.

Kemudian Kristian menjawab "Kalau saya ucap Syahadat nanti saya meninggalkan agama saya," katanya.

Muslim pun menjawab "Ya kan sama-sama kata-kata,".

Aku menghargai pemikirannya, tapi tidak bisa jika dipaksa setuju. Pertama, selamat Natal dan Syahadat memang sama-sama sebuah kalimat. Tapi jelas sekali kedua kalimat itu tidak sama. Yang satu merupakan ucapan selamat, sedangkan yang satunya adalah kalimat yang bisa dibilang sakral, pun merupakan syarat masuk Islam. Setahuku, kalimat "selamat Natal" bukan syarat untuk masuk ke agama Kristen? Tolong dikoreksi jika salah.

Alasan lainnya yaitu mengucapkan selamat Natal berarti mengakui bahwa Isa merupakan anak Tuhan. Yang mana dalam ajaran Islam, Tuhan tidak beranak. Di sini kegelisahanku semakin menjadi-jadi. Apa serendah itu iman kita? Dengan mengucapkan selamat Natal, otomatis kita mempercayai Tuhan lain? Meninggalkan Islam yang sudah dianut sejak lahir, dan mengingkarinya sebab sebuah kalimat yang hanya diucapkan setahun sekali? Menjelang Natal hari ini, beredar video dari Abi Quraish Shihab tentang hukum mengucapkan Natal. Kata Abi “Jika akidah tetap terjaga, maka bisa saja mau ucapkan greeting selamat Natal. Bahkan di Quran ada selamat Natal. Yang pertama mengucapkan selamat natal itu Isa AS. Di Quran dikatakan: salam sejahtera bagiku, pada hari kelahiranku. Kita tetap percaya di dalam akidah, bahwa Isa bukan anak Allah, dia adalah Rasul,” katanya. Abi juga mengucapkan kalimat yang sangat kusenangi. “Bergembira dengan kegembiraan mereka, tetapi tidak mengganggu akidah kita,” katanya. Adem ya, dengernya..

Tapi apa pun pilihan orang lain, tentu kita harus menghargainya. Aku tidak pernah memaksakan opiniku pada teman yang berbeda pandangan. Untuk mencegah hal-hal yang tidak diinginkan (karena sepertinya anggota keluargaku tidak mengucapkan selamat Natal), biasanya aku mengucapkan selamat Natal kepada teman-temanku melalui japri.

Ada kejadian yang selalu kuingat, tepatnya ketika aku baru saja memutuskan untuk mengucapkan selamat Natal kepada teman-temanku. Waktu itu aku sedang mengetik ucapan untuk dikirimkan kepada temanku yang beragama Kristen. Namun, di tengah menulis aku kebingungan karena sama sekali tidak mengetahui, kalimat apa yang biasanya diucapkan untuk merayakan Natal? Akhirnya aku harus bertanya dulu kepada mbah google. Shalom, semoga damai selalu. (Maaf, sekadar mengucapkan 🙏)

Share:

Rabu, 19 Desember 2018

Menjadi Perempuan


Menjadi perempuan bukanlah hal yang mudah. Banyak sekali buku-buku yang membahasnya. Dari fiksi hingga nonfiksi, semua ada. Aku pun mengamini bahwa menjadi perempuan tidaklah mudah. Bukan hanya dari buku-buku itu, tapi juga dari kehidupan perempuan-perempuan di sekitarku.

Ada yang hidup seperti dalam tempurung. Tidak tahu apa-apa, tidak tahu di luar sana ada banyak hal seru untuk dicoba (meskipun kadang malah membuat pusing) daripada terus-terusan melakukan hobinya, mengurung diri di rumah dan menonton televisi. Berkali-kali aku memikirkan apa penyebabnya, tapi tetap tidak bisa kutemukan. Bisa jadi karena orang tuanya, pengalamannya di masa lalu, aku tidak tahu. Kemudian aku berusaha membuka jendelanya. Memberinya buku, mengajaknya bicara. Kemudian memilih menjadi pengecut dengan membiarkannya hidup dengan cara seperti itu saja.

Ada lagi, ia seolah-olah hidup bebas dan bahagia, tetapi beberapa kali kutemui matanya basah. Kemudian muncul pertanyaan dalam diriku. Apa itu bahagia?

Lainnya, terjebak dalam pernikahan. Aku tidak tahu banyak soal pernikahan. Yang kulihat, dua manusia yang tadinya memilih untuk bersama, justru saling ingin berpisah. Eh, tidak selalu saling sih. Kadang keinginan berpisah datang dari satu pihak saja. Sedangkan yang lainnya sebenarnya enggan. Ya.. begitu.

Ibuku berulang kali bilang, jadilah perempuan yang mandiri. Rasanya tak mungkin jika hal itu berulang kali diingatkan padaku jika tidak penting. Salah satu pesan dari ibuku tentang bagaimana menjadi perempuan.. semoga aku tidak kesusahan..

Share:

Minggu, 17 Juni 2018

Pertanyaan yang Paling Sering Ditanyakan

Biasanya banyak pertanyaan yang muncul dari sanak saudara ketika Lebaran. 

"Kuliah di mana?" 

"Sudah semester berapa?" 

"Kapan lulus?" 

Dan kapan-kapan yang lain. Tapi, di antara semua pertanyaan-pertanyaan itu, ada satu pertanyaan yang selalu ada dan tidak pernah absen ditanyakan padaku. Bahkan pertanyaan ini bukan hanya muncul ketika lebaran saja, namun hampir setiap hari ada, yaitu perihal tinggi badan.

Kok bisa?

Oke mantap.

Aku memiliki tinggi sekitar 173 cm. Banyak orang yang beranggapan bahwa angka tersebut membuatku masuk dalam kategori 'sangat tinggi'. Dari teman yang setiap hari bertemu, sampai orang yang baru mengenalku, biasanya punya anggapan seperti itu.

Tidak ada rasa minder sih, hanya terkadang ada rasa ngga enak kalau membuat orang lain tidak nyaman. Misalnya yang paling baru, ketika sholat ied kemarin aku berdiri di sebelah perempuan, mungkin masih SMP. Ketika berdiri hendak sholat, gestur tubuhnya menunjukkan keterkejutan ketika melihatku. Kemudian ia meminta bertukar tempat dengan teman di sebelahnya. Maaf ya, dek...

Aku, mengartikan isi hati orang yang terkejut.

Tidak sekali itu saja aku mendapati kejadian serupa. Sering aku mendapati keterkejutan seseorang ketika melihatku. Tapi ya aku diam saja, biasa saja. Wong aku memang begini adanya. Nah, kalau orang-orang yang terkejut tadi memiliki keberanian lebih, biasanya mereka bertanya.

“Tinggi banget mba, berapa tingginya?”

Dengan senang hati aku jawab. kalau sudah kuberi tahu tingginya, biasanya mereka tanggapi lagi.

“Jadi polisi aja mba.”

 atau

“Jadi pramugari aja mba.”

Kalau masih penasaran juga, biasanya pertanyaan berlanjut.

“Orang tuanya tinggi ya mbak?”

Jawaban dari pertanyaan tersebut sekaligus menjawab pertanyaan dari teman-teman yang sering ditujukan padaku.

“Kamu makan apa sih nad bisa tinggi?”

atau

“Kamu suka renang ya?”

atau

“Apa sih tipsnya biar tinggi?”

Anywhere~ anytime~

Jadi, tidak ada yang istimewa dari makanan yang aku konsumsi. Normal-normal saja, tidak rutin minum susu atau makan obat peninggi badan yang dijual di instagram. Engga, engga.. Jarang olah raga, apalagi berenang. Untuk lebih jelasnya, aku lampirkan foto keluargaku saja ya jadi kalian bisa menebak sendiri  jawabannya hehe.


Sekian tentang pertanyaan yang paling sering ditanyakan. Kalau ada yang tanya lagi ya tidak apa, manusia kan memang dasarnya selalu ingin tahu. Lagipula perihal tinggi badan ini kadang bisa jadi pembuka percakapanku dengan orang-orang.

Selamat menjawab pertanyaan-pertanyaan dari keluarga besar ya!
Share: